Tragedy of the commons atau tragedi kepemilikan bersama yaitu suatu istilah untuk menyatakan bahwa sumber daya alam ini milik bersama atau milik semua orang. Jadi setiap orang merasa memiliki sumber daya alam, maka dari itu siapa saja dapat memanfaatkannya (eksploitasi). Namun konsekuensi dari itu yaitu dikarenakan milik bersama atau dapat dibilang barang inventaris, maka setiap orang cenderung tidak bertanggung jawab untuk memelihara dan melestarikannya. Hal ini dapat diungkapkan oleh suatu anekdot, yaitu bahwa sumber daya alam itu bagaikan kendaraan inventaris kantor yang biasanya oleh pegawai kantor hanya digunakan saja tanpa ada rasa tanggung jawab untuk merawatnya dikarenakan kendaraan tersebut bukan miliknya meskipun berhak memakainya.

Dalam hal ini, tragedi kepemilikan bersama terhadap sumber daya alam. Beberapa komponen yang terlibat dalam tragedi kepemilikan bersama ini contohnya yaitu hutan, sungai, danau, laut, barang tambang dan yang lainnya yang bersifat berkurang ketika digunakan. Tragedi kepemilikan bersama ini dapat diartikan pula sebagai suatu pandangan tentang keinginan manusia untuk mendapatkan keuntungan yang besar untuk kepentingan pribadinya semata daripada membagi-bagikannya kepada orang banyak namun hanya mendapat jatah sedikit. Hal ini hanya akan menguntungkan pihak yang memakai banyak sumber daya alam, karena pada akhirnya ketika sumber daya alamnya habis, dampaknya akan dirasakan oleh semua orang.

Fenomena ini diperburuk lagi oleh kenyataan bahwa populasi manusia berkembang sesuai dengan deret ukur, sedangkan kemampuan reversibel sumber daya alam sesuai dengan deret hitung. Maka dapat diartikan bahwa daya dukung lingkungan lebih kecil dari eksploitasinya. Terjadinya tragedi kepemilikan bersama ini diakibatkan oleh pemikiran bahwa sumberdaya alam adalah milik semua orang yang telah diciptakan Tuhan, sehingga siapa saja dapat memanfaatkannya. Dalam memanfaatkannya inilah sering kali orang berlomba-lomba untuk mendapatkan keuntungan yang lebih dari yang didapatkan orang lain.

Dampak yang diakibatkan dari fenomena tragedi kepemilikan bersama ini sangat buruk. Contohnya yaitu ketika manusia melakukan penggundulan hutan (over-exploitation), maka kerugian atas kejadian itu yaitu seperti banjir karena tidak ada penyerap air ketika musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau karena tidak ada hutan sebagai penyimpan cadangan air. Dalam skala global, penggundulan hutan akan berkontribusi terhadap pemanasan global (terlepas dari kontroversinya). Contoh lainnya yaitu pencemaran lingkungan. Pembuangan limbah ke air seperti bahan kimiaradioaktif, sampah rumah tangga, dan ke udara seperti sisa pembakaran, aerosol, dan lain-lain dapat menyebabkan pencemaran pada lingkungan. Manusia berpikir bahwa limbah yang mereka buang hanya sedikit dibandingkan luas alam yang mereka tempati dan nantinya limbah tersebut akan hilang dengan sendirinya. Padahal manusia yang berpikir seperti itu tidak sedikit, ketika semua orang berpikir seperti itu maka limbah yang dibuang bukan sedikit lagi.

Untuk mengatasi trend tragedi kepemilikan bersama ini yaitu kesadaran bagi seluruh umat manusia, namun hal itu sangatlah sulit untuk diwujudkan. Karena konsep seperti ini sulit dipahami dan diterima oleh sebagian orang. Mungkin ketika pohon terakhir telah ditebang dan ikan terakhir telah ditangkap, maka manusia baru sadar bahwa dirinya tidak bisa memakan uang.

Oleh: Fikri Al-Mubarok

Leave a Reply

Your email address will not be published.