PARA PENJELAJAH MALAM HUTAN KEMUNING BAGIAN 2 – BELUK

Setelah sebelumnya pernah dibahas mengenai satwa penjelajah malam Hutan Kemuning, Kabupaten Temanggung kali ini kita akan berkenalan dengan mamalia pelayang lainnya yang juga bisa kita jumpai di Hutan Kemuning, yaitu Bajing Terbang Merah atau warga biasa menyebutnya sebagai Beluk atau Tando. Satwa ini memiliki nama ilmiah Petaurista petaurista.

 

Bajing Terbang Merah (Petaurista petaurista) dan ilustrasinya

 

Beluk atau Tando

Beluk adalah salah satu jenis bajing terbang terbesar di Asia Tenggara. Sebagian besar aktivitasnya dilakukan pada malam hari, sehingga ia termasuk satwa nokturnal. Satwa ini, seperti halnya Bajing Terbang Jawa, memiliki selaput terbang dan rambut khas yang membentang dari pergelangan tangannya sampai kaki belakangnya dan kemudian meluas sampai lipatan kulit di antara pangkal ekor dan kaki belakang. Selaput tersebut terdiri dari lembaran otot yang bisa menegang atau mengendur sesuka hati, sehingga membuatnya mampu mengendalikan arah melayang. Selain itu, ada lipatan di pinggir selaput yang membantunya melayang. Ciri fisik spesies ini ditandai dengan mata yang besar dan berwarna merah mahoni, meskipun warna tersebut bervariasi sesuai lingkungannya. Dibandingkan dengan bajing lainnya, spesies ini cenderung lebih besar; panjang kepala-badannya rata-rata 39,8 cm ditambah ekornya sepanjang 42,2 cm. Lima cakar melengkung dan tajam dapat ditemukan di kaki belakang sedangkan kaki depannya terdapat empat cakar.

 

Perilaku

Selain pemanjat yang baik, Beluk juga merupakan pelayang yang hebat (spesies ini mampu melayang jauh di antara pohon hingga mencapai 100 meter bahkan lebih). Hal ini dilakukan dengan melompat dari ketinggian tertentu, biasanya dari cabang pohon paling atas. Saat dalam penerbangan, Beluk mampu mengendalikan arah melayang dengan menegang dan melemaskan otot-otot selaputnya. Saat istirahat, ia melipat selaput terbang di samping tubuhnya. Hewan soliter ini bersifat nokturnal dan paling aktif dan bersuara selama jam malam. Suara yang rendah dan monoton diyakini sebagai panggilan kawin. Beluk tidak melakukan hibernasi meski lingkungannya berubah dingin, tapi mungkin bermigrasi ke daerah dengan makanan yang lebih melimpah.

 

Sebaran Geografis

Petaurista petaurista tersebar dari daerah perbatasan timur Afghanistan sampai Jawa, dan dari Kashmir, Taiwan, dan Cina selatan sampai Sri Lanka. Jumlah terbesarnya ditemukan di wilayah hutan Pakistan. Studi dan laporan mengenai keberadaannya di hutan tropis dataran rendah belum banyak terungkap, seperti yang ada di Hutan Kemuning, Jawa Tengah.

 

Habitat

Satwa ini mendiami hutan sekunder primer atau hutan dataran tinggi, meskipun ia juga bisa dijumpai di hutan yang berdekatan dengan aktivitas manusia dan tutupan pohon lebih jarang hingga hutan yang rapat. Spesies ini bersarang di lubang pohon, dan makanannya meliputi daun muda segar serta berbagai buah dan biji-bijian di hutan.

 

Peran Ekosistem

Beluk menyukai makanan terutama terdiri dari pinus, tunas pohon, daun, cabang muda, dan berbagai buah dan kacang saat musimnya. Hal ini menjadi alasan bahwa mereka dapat memberikan manfaat bagi ekosistem dengan membantu penyebaran benih atau biji tumbuhan.

Meski oleh IUCN dikategorikan dalam status risiko rendah (Least Concern), Beluk merupakan salah satu satwa yang menjadi target perburuan. Belulang spesies ini terkadang dijual oleh pedagang lokal di Pakistan.

 

Oleh: Ryan Adi Satria

2 thoughts on “PARA PENJELAJAH MALAM HUTAN KEMUNING BAGIAN 2 – BELUK

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *