Hutan KemuningShade Grown Coffee

Perlu Keseimbangan Dalam Penanaman Kopi dan Regenerasi Hutan Kemuning

Hutan Alam Kemuning

Hutan Kemuning adalah hutan alam di kawasan Perhutani. Sebagai hutan alam, hutan Kemuning harusnya bisa beregenerasi sendiri. Hutan yang baik seharusnya dapat terus tumbuh. Tumbuhan yang tua akan mati dan digantikan oleh tumbuhan yang lebih muda. Tapi apa yang terjadi kalau hutan alam berdampingan dengan masyarakat yang menanam kopi di bawah tegakan hutan?

Penelitian menunjukkan bahwa anakan pohon yang ditemukan di hutan Kemuning sangat sedikit. Semai pohon diduga tidak mampu bertahan hingga tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi. Bahkan tinggi semai yang ditemukan tidak ada yang lebih dari 100 cm.

Lantai hutan yang telah dibersihkan dari tumbuhan bawah

Secara ekologi, hal ini mungkin disebabkan karena semai yang akan tumbuh tidak mampu berkompetisi dengan tanaman kopi. Baik karena kurangnya cahaya, maupun nutrisi tanah. Di sisi lain, hal ini tidak terlepas dari kegiatan pengolahan lahan oleh petani kopi. Tumbuhan yang muncul di bawah tanaman kopi dianggap sebagai gulma. Petani membersihkan gulma secara rutin dengan tindakan fisik maupun kimiawi. Saat membersihkan gulma, petani seringkali tidak memperhatikan bila ada semai pohon yang tumbuh di sela-sela tumbuhan bawah. Seluruh tumbuhan dibawah tanaman kopi dibabat habis tak tersisa. Disadari atau tidak, semai yang seharusnya tumbuh menjadi pohon tidak mampu bertahan. Jika kondisi ini terus berlanjut, regenerasi hutan akan terancam.

Penggunaan herbisida secara masif sudah saatnya ditinggalkan. Petani kopi pada umumnya menggunakan herbisida jenis glifosat. Cara kerja herbisida ini dialirkan ke dalam jaringan tanaman gulma dan mematikan jaringan sasarannya seperti daun, titik tumbuh, tunas sampai ke perakarannya. Penetrasi herbisida glifosat dilakukan melalui daun, pelepah yang masih muda dan sebagian melalui batang. Dengan demikian, semai pohon yang tingginya sama atau lebih rendah dari tumbuhan bawah akan sangat mudah terpapar herbisida lalu mati.

Penanaman kopi tidak dipungkiri telah menjadi andalan rumah tangga masyarakat sekitar hutan dan merupakan jalan tengah/win-win solution bagi kelestarian lingkungan dan ekonomi masyarakat. Akan tetapi, sebuah penelitian (Wulandari, 2018) menunjukkan bahwa penanaman kopi tetap memiliki dampak merugikan secara ekologis yang perlu dipikirkan. Masyarakat butuh alternatif pekerjaan seperti pengolahan produk kopi dan wisata alam agar dapat mengurangi intensitas pengolahan lahan sehingga memberikan kesempatan untuk hutan Kemuning beregenerasi.

Masyarakat di sekitar hutan Kemuning pada umumnya menjual kopi yang telah dikeringkan dalam bentuk biji (green bean). Saat ini JAWI telah mendorong masyarakat untuk mengolah sendiri kopi mereka hingga menjadi bubuk kopi kemasan. Kegiatan ini dapat menyerap tenaga kerja penduduk lokal. Selain kopi, hutan Kemuning juga memiliki potensi keindahan alam dan satwa liar yang langka. Kekayaan alam hutan Kemuning berpotensi dijadikan obyek wisata alam khusus seperti pengamatan satwa. Kegiatan wisata nantinya juga dapat memberikan kontribusi bagi perekonomian masyarakat.

 

Sumber: Wulandari, S. 2018. Struktur Komunitas Hutan Alam Sekunder BKPH Candiroto KPH Kedu Utara. Skripsi. Universitas Gadjah Mada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *