Shade Grown Coffee

Apa sih kelebihannya shade grown coffee dibanding kopi lain ?

Oleh : Wiwid Prayoga

Kalian tentu sudah akrab dengan dua menu utama kopi, Arabica dan Robusta yang diikuti nama daerah sebagai identitas pengenalnya. Menjamurnya kedai kopi di sekitar kita sedikit banyak juga membuat wawasan kita tentang berbagai macam cara/metode penyeduhan kopi semakin meningkat. Mulai dari seduh tubruk, seduh V60, vietnam drip, rockpresso, dan sebagainya, yang bisa membuat variasi citarasa kopi menjadi berbeda meski dari satu jenis yang sama. Atau bagi coffee addict, tentu sudah mengenal lebih jauh hingga pada proses pasca panen kopi, seperti full wash, semi wash, natural, honey (black, red, yellow), wine, dan variasi proses pasca panen yang lain.

Berbeda dari kedua hal diatas, namun masih merupakan satu kesatuan dalam hulu – hilir rantai perjalanan industri kopi. Pernahkah terlintas dalam pikiran kalian pertanyaan ;

  1. Bagaimana pengelolaan kebun kopi itu dilakukan ?
  2. Apakah praktek pengelolaan kebun kopi nya ramah lingkungan ?

Dua pertanyaan itu adalah pintu awal menelusuri lebih jauh tentang produksi di tingkat hulu industri kopi. Ada baiknya kita mengenal dulu proses perjalanan kopi dari hulu produksi hingga tiba di hadapan meja dalam secangkir kopi yang siap disruput untuk menikmati indahnya pagi. Jadi, kalau saya bagi proses perjalanannya, ada 4 bagian/rantai utama yang perlu kalian ketahui.

  1. Metode pengelolaan kebun kopi
  2. Metode pasca panen.
  3. Metode sangrai (roasting).
  4. Metode penyeduhan/penyajian.

Tiap bagian tersebut, punya variasi di dalam metode nya untuk menghasilkan kombinasi hingga secangkir kopi siap untuk kalian konsumsi. Selain itu ada aspek-aspek yang terkait dan berkesinambungan untuk mendukung kelancaran rantai industri kopi. Aspek yang terlibat dari aspek ekologi hingga sosial ekonomi, bahkan satwa liar yang juga hidup di dalam kawasan perkebunan kopi.

Kembali ke bahasan utama shade grown coffee, mari kita mulai dari definisi sederhananya. Mengutip dari coffeehabitat.com, “shade grown coffee adalah pengelolaan kopi di bawah tegakan/pepohonan/naungan”. Dengan definisi yang sederhana ini, mungkin kalian sudah dapat membayangkan seperti apa bentuk shade grown coffee. Kalian mungkin juga sudah sering melihat jika melakukan perjalanan ke daerah penghasil kopi, dimana dalam satu hamparan lahan tanaman kopi terdapat satu atau dua jenis pohon yang menjadi naungannya (misal : lamtoro, sengon, pinus, alpukat, karet, pisang dll).

Sederhana memang istilahnya. Namun, apakah cukup sampai disitu ulasannya ? Tentu saja belum. Shade grown coffee ternyata masih dibagi lagi menjadi 4 kategori. Untuk lebih jelasnya, mari kita lihat gambar beserta penjelasannya berikut ini :

Ilustrasi dari coffeehabitat.com

Rustic : Biasanya digunakan oleh petani dalam skala lokal (small family farm). Kopi ditanam di hutan dengan sedikit perubahan pepohonan asli. Jenis pohon naungan beragam, dengan jumlah rata-rata 25 jenis pohon naungan. Terdiri atas tiga atau lebih lapisan naungan. Prosentase penutupan naungan 70-100%.

Traditional Polyculture : Kopi ditanam di bawah kombinasi antara jenis pohon hutan asli dan jenis pohon kayu komersil yang sengaja ditanam (misal; sengon, pinus) serta pohon buah lainnya (misal; durian, nangka, pisang). Prosentase penutupan naungan dalam model ini antara 60-90%.

Commercial Polyculture : Lebih banyak pohon hutan asli yang ditebang untuk menambah jumlah tanaman kopi, serta naungan sebagian besar disediakan oleh pohon kayu komersil dan buah yang ditanam. Ranting dan kanopi (bagian dalam struktur morfologi pohon yang memiliki daun) pohon hutan asli dipangkas secara teratur, dan epifit (tanaman yang menempel pada pohon misal ; anggrek, paku-pakuan) biasanya dihilangkan. Lebih sering menggunakan pupuk dan pestisida karena kurangnya naungan pohon hutan yang membantu mencegah hilangnya nutrisi tanah. Biasanya hanya terbentuk dua profil lapisan kanopi yaitu lapisan kanopi pohon hutan dan lapisan tanaman kopi. Prosentase penutupan naungan dalam model ini antara 30-60%.

Shade Monoculture : Penanaman kopi dalam jarak tanam yang rapat (biasanya 2,5 x 2,5 m) dengan hanya satu atau dua jenis pohon sebagai naungan yang sekaligus punya nilai komersil (misal : sengon, lamtoro, jabon, mahoni, pinus, nangka, dll). Prosentase penutupan naungan dalam model ini antara 10-30%.

Full sun : Hampir atau bahkan tidak ada pohon naungan. Seluruh lahan berisikan tanaman kopi. Prosentase penutupan naungan 0-10%

Berdasarkan uraian shade grown coffee diatas, untuk lebih mudahnya, dapat saya lebih persingkat lagi dalam ilustrasi seperti di bawah ini.

Warna gradasi hijau s/d merah dalam ilustrasi menggambarkan level keramahan lingkungan tiap model pengelolaan. Semakin hijau semakin ramah lingkungan. Sebaliknya, semakin mendekati warna merah, semakin tidak ramah lingkungan karena tingginya intensifitas pengelolaan lahan. Selain itu juga dapat kalian pahami bahwa yang dimaksud dengan shade grown coffee sebenarnya adalah pengelolaan kebun kopi dari model rustic hingga shade monoculture. Jadi, apabila kita persempit lagi kategorinya, berdasarkan level kontras prosentase naungan ada dua model utama dalam pengelolaan kopi yaitu shade grown coffee dan full sun coffee.

foto : perbandingan kondisi shade grown coffee vs full sun coffee dari recipeforperfection.com

Setelah mengetahui apa itu shade grown coffee, selanjutnya mari kita bahas mengenai manfaat dan kelebihan shade grown coffee bagi lingkungan dibanding lawan kontrasnya, yaitu full sun coffee. Berikut 5 ringkasannya yang didapat dari berbagai sumber :

  1. Di perkebunan shade grown coffee, guguran daun dari pohon naungan menyediakan humus bagi tanah dan selanjutnya memberikan nutrisi untuk tanaman kopi. Di full sun coffee nutrisi ini tidak tersedia, jadi pupuk harus digunakan, terutama nitrogen. Kebun full sun coffee melepaskan tiga kali lipat nitrat ke daerah aliran sungai setempat daripada pengelolaan shade grown coffee.
  2. Ada lebih sedikit gulma di perkebunan shade grown coffee, baik karena efek naungan itu sendiri dan karena daun – daun yang jatuh dari pohon penaung bertindak sebagai mulsa alami. Sementara itu di full sun coffee, penggunaan herbisida diperlukan untuk mengendalikan gulma.
  3. Tanah di perkebunan full sun coffee lebih banyak terpapar unsur-unsur, terutama hujan deras khas daerah tropis. Hal ini menyebabkan erosi tanah lapisan atas, dan pencucian pupuk kimia, pestisida, dan herbisida ke daerah aliran sungai setempat. Erosi tanah, pengasaman dan polusi air adalah konsekuensi serius dari perkebunan kopi model full sun coffee. Sementara itu, shade grown coffee melalui pohon penaungnya, mampu mengurangi dan menahan erosi tanah. Iklim mikro yang lebih stabil pada shade grown coffee juga dapat melindungi terhadap fluktuasi suhu dan kelembaban yang disebabkan oleh perubahan iklim.
  4. Perkebunan full sun coffee tumbuh dan menua lebih cepat daripada yang tumbuh di tempat shade grown coffee, dan karenanya tanaman kopi harus diganti lebih sering. Pohon kopi yang ditanam di bawah sinar matahari langsung biasanya punya masa produktif kurang dari 15 tahun, sementara pohon kopi yang ditanam di bawah naungan tetap produktif selama 30 tahun atau bahkan lebih.
  5. Shade grown coffee mendukung keanekaragaman hayati, serta kawasannya dapat bertindak sebagai habitat satwa liar. Sejumlah penelitian telah menunjukkan bahwa keragaman burung, anggrek, kelelawar, semut, amfibi, lebah, kumbang, laba-laba, mamalia, dan taksa lainnya lebih tinggi jumlah maupun keragamannya dibandingkan dengan kawasan full sun coffee.

Pepohonan rindang di shade grown coffee dapat mendukung tempat hidup bagi beragam penyerbuk alami, dari lebah hingga kelelawar. Penyerbuk asli ini membantu meningkatkan hasil panen kopi. Shade grown coffee memiliki keragaman predator alami yang lebih tinggi untuk membantu mengendalikan hama penyakit tanaman kopi. Sehingga metode produksi shade grown coffee juga dapat membantu membuat industri kopi jauh lebih berkelanjutan dalam jangka panjang, menguntungkan petani dan pecinta kopi secara turun-temurun.

Namun demikian, terlepas dari berbagai manfaatnya serta kelebihan shade grown coffee terhadap lingkungan, muara simpulan akhir tulisan ini adalah pada kalian sendiri sebagai penikmat/pecinta kopi. Karena antusiasme dan komitmen petani dalam mengelola kebun kopinya juga bergantung kepada jumlah permintaan konsumsi shade grown coffee. Jika belum tahu asal-usul secangkir kopi yang kalian minum, coba telusuri kembali asal produksinya. Sudahkah produksinya ramah lingkungan ? Kalian dapat membuat perbedaan dengan memilih menggunakan uang kalian untuk meningkatkan praktik produksi kopi yang lebih bertanggung jawab. Kalian dapat benar-benar berpartisipasi dengan membeli shade grown coffee. 😀

#***#


Artikel Menarik Lain : Sejarah Budidaya Kopi Hutan (Shade Grown Coffee) di Hutan Kemuning


 

Referensi :

Armbrecht and M. C. Gallego. 2007. Testing ant predation on the coffee berry borer in shaded and sun coffee plantations in Colombia. Entomologia Experimentalis et Applicata 124:261-267.

Borkhataria, R. R., J. A. Collazo, and M. J. Groom.  2006.  Additive effects of vertebrate predators on insects in a Puerto Rican coffee plantation.  Ecological Applications 16:696-703.

Donald, P. F. 2004. Biodiversity impacts of some agricultural commodity production systems. Conservation Biology 18:17-37.

Jha, Shalene., Christopher M. B., Stacy M., Philpott V., Ernesto M., Peter L., Robert A. R., 2014. Shade Coffee: Update on a Disappearing Refuge for Biodiversity. BioScience, Volume 64, Issue 5 : 416–428.

Kellermann, J. L., M. D. Johnson, A. M. Stercho, and S. C. Hackett. 2008.Ecological and economic services provided by birds on Jamaican Blue Mountain coffee farms. Conservation Biology 22:1177-1185.

Moguel, Patricia and Victor Toledo. 1999. Biodiversity Conservation in Traditional Coffee Systems of Mexico. Conservation Biology 13:11–21.

Rice, R. A., and J. F. Ward. 1996. Coffee, conservation, and commerce in the Western Hemisphere. Smithsonian Migratory Bird Center and National Resources Defense Council.

 

4 thoughts on “Apa sih kelebihannya shade grown coffee dibanding kopi lain ?

  1. Artikel yang sangat bagus …
    Ulasan informasi yang disampaikan sangat bermanfaat …
    Terimakasih informasinya min …
    Ditunggu artikel selanjutnya …
    Salam kenal …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *